19 Juli 2008

Waspadai Munculnya Benjolan di Leher

*Bisa Jadi Terkena TBC Kelenjar

*Tak Menular Kecuali Disertai TBC Paru


SETIAP organ tubuh yang diciptakan Tuhan bagi manusia pasti memiliki peran tersendiri untuk kelangsungan hidup seseorang. Termasuk kelenjar getah bening. Jika dilihat dari perannya, kelenjar ini memiliki peran sebagai pertahanan pertama masuknya kuman dan sel-sel tumor ke dalam tubuh.

"Bila terjadi infeksi organ tubuh, kelenjar getah bening dalam tubuh akan membengkak. Ini adalah kondisi wajar sebagai bentuk mekanisme tubuh mempertahankan diri dari serangan kuman," terang dr Arief Koswandi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RS Awal Bros Batam.

Kelenjar getah bening itu sendiri terdapat pada beberapa bagian tubuh yang berbeda. Mulai dari leher, ketiak, sela paha, serta di dalam perut. Dan bila terjadi infeksi pada tubuh, biasanya kelenjar itu akan membengkak.

Infeksi kelenjar itu sendiri terbagi menjadi dua yakni infeksi non spesifik yakni infeksi akibat adanya peradangan organ tubuh lain dan infeksi spesifik yakni adanya tubercolusis (TBC) kelenjar atau penyakit kelamin.Untuk wilayah Batam, kasus yang cukup banyak dialami pasien adalah TBC kelenjar.

"Jika dilihat dari gejala klinisnya, derita TBC kelenjar diawali demam berkepanjangan, batuk lama, nafsu makan menurun, serta munculnya benjolan-benjolan pada leher atau ketiak, serta sela paha. Hanya saja, yang paling banyak ditemukan adalah adanya benjolan di leher," terangnya.

Benjolan yang merupakan pembesaran kelenjar itu biasanya akan terlihat mengelompok. Dan suatu saat benjolan-benjolan itu akan pecah serta mengeluarkan cairan seperti nanah. Sehingga, sebagai langkah antisipasi jika memang terjadi benjolan pada bagian tubuh seperti leher, ketiak, sela paha segera memeriksakan diri ke dokter. Karena bisa jadi, benjolan ini merupakan tanda awal seseorang terkena TBC kelenjar.

Sebab, semakin dini seseorang mengetahui jenis penyakit yang dideritanya, maka penanganan secara cepat juga akan lebih mudah untuk dilakukan. (*)



Butuh Sembilan Bulan untuk Penyembuhan


KETELATENAN merupakan kunci utama untuk menyembuhkan TBC. Bagaimana tidak, agar bisa terbebas dari penyakit ini penderita harus menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat setiap hari secara rutin selama berbulan-bulan. Jika lalai dalam mengonsumsi obat, penderita akan semakin jauh dari kesembuhan.

"Jika TBC paru bisa disembuhkan dengan mengonsumsi obat secara terus menerus selama enam bulan, penyembuhan TBC kelenjar membutuhkan waktu yang lebih lama yakni hingga sembilan bulan," terang dr Arief Koswandi SpPD, dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Awal Bros Batam.

Untuk obat, jenis obat yang harus dikonsumsi oleh penderita TBC kelenjar tidak berbeda dengan obat yang dikonsumsi oleh penderita TBC paru atau TBC lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada lamanya waktu konsumsi obat.

Meski TBC kelenjar masuk dalam kategori TBC, tetapi penyakit ini bukanlah tipe penyakit yang akan menular pada orang lain. Kecuali penderita TBC kelenjar bersangkutan juga menderita penyakit TBC paru. Sebab, bila derita yang dialami adalah TBC paru, maka penyakit itu akan menular pada orang lain melalui nafas.

Dan bentuk penularan yang akan dialami nantinya tidak akan selalu berupa TBC paru tapi bisa juga TBC lain termasuk TBC kelenjar. Selain akibat penularan dari penderita TBC paru, munculnya TBC kelenjar juga bisa terjadi karena seseorang pernah terinfeksi TBC paru waktu kecil.

Dan saat pederita memiliki stamina kuat, kuman tersebut tidur. Namun setelah stamina menurun, kuman bangun dan menyebabkan munculnya kembali TBC termasuk TBC kelenjar.

"Tidak setiap orang yang mengalami kontak secara langsung dengan penderita TBC paru akan langsung tertular penyakit ini. Sebab, semua tergantung ketahanan tubuh masing-masing. Bila seseorang sedang dalam kondisi fit maka kemungkinan tertular sangat kecil, begitu pula sebaliknya," terangnya.

Karenanya untuk menghindari tertularnya TBC paru yang bisa berdampak pada terkenanya derita TBC kelenjar, penjagaan kondisi tubuh harus selalu diperhatikan. Misalnya dengan menganut pola hidup sehat yakni makan dan olahraga teratur, istirahat cukup dan bila perlu rajin mengonsumsi multivitamin. Sebab, dengan tubuh yang sehat, seseorang lebih siap mempertahankan diri dari serangan penyakit. (*)



Segera Lakukan Pemeriksaan Biopsi


PEMERIKSAAN biopsi hingga kini masih menjadi satu-satunya cara pemeriksaan yang bisa membantu seseorang mengetahui penyebab terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening pada tubuh. Sebab, hasil pemeriksaan ini bisa memberikan hasil yang akurat hingga 100 persen.

"Bila kita menemukan munculnya pembengkakan kelenjar getah bening, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan biopsi. Dengan begitu, bila ditemukan penyakit akan lebih mudah diatasi," kata dr Arif Koswandi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RS Awal Bros Batam.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan secara patologi anatomi (PA) ini, dokter akan mengambil sampel jaringan pada kelenjar untuk diperiksa lebih lanjut. Melalui contoh jaringan ini akan diketahui apakah telah terjadi infeksi atau tidak.

"Pemeriksaan itu juga akan memberikan gambaran, organ mana yang telah terkena infeksi dan telah menyebar hingga getah bening. Misalnya telah terjadi infeksi usus, maka hasil pemeriksaan akan menunjukkan bahwa kelenjar getah bening telah terpapar penyakit dari usus," katanya.

Perlunya pemeriksaan sejak dini, karena infeksi kelenjar kadang tidak menampakkan tanda-tanda khas selain terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening. Pembengkakan ini biasanya diikuti dengan munculnya rasa nyeri dan terlihat merah. Meski tidak selalu pasti, pembengkakan kelenjar ini terjadi karena adanya infeksi organ tubuh terdekat dengan kelenjar getah bening.

Lain halnya bila pembengkakan terjadi pada semua kelenjar getah bening yang pada seluruh tubuh. Kondisi ini bisa jadi karena adanya tumor kelenjar atau adanya tumor pada organ lain pada tubuh. Dan untuk memastikannya hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan biopsi.

"Pemeriksaan biopsi juga bisa menjadi penentu apakah infeksi yang terjadi pada tubuh termasuk golongan infeksi spesifik seperti adanya TBC kelenjar atau non spesifik akibat adanya peradangan organ tubuh seperti nyeri gigi, tenggorokan, dan sebagainya," jelasnya. (*)

6 komentar:

forviknays mengatakan...

wah.. postinganya mba diva membantu banget buat saya, paling nggak saya jadi lbh tau lah tentang tbc ini, kebetulan saya di diagnosa kena tbc itu..
belum pasti sih, soalnya belum di biopsi, baru selasa minggu depan saya mau biopsi.. soalnya adek saya besuk mau sunat -_- huwh, pengobatan saya jadi di tunda, tapi kata dokternya nggak papa sih.. hehe..

Aziz mengatakan...

Saya di diagnosa terkena TBC kelenjar dan telah menjalani pengobatan. Memang sebelun nya ketika umur 3 tahun, saya tertular tbc dari penderita akut. Karena penanganan yang benar dan tepat saya sempat dinyatakan sembuh, tapi kini setelah saya berumur 20 tahun benjolan muncul dan semakin membesar di dalam nya berisi cairan berupa nanah. Beruntung dengan penanganan yang tepat pula benjolan tersebut tak sampai pecah keluar. Penanganan dokter dikeluarkan cairan secara bertahap diberi obat TBC dan vitamin, tetapi inti penyembuhan nya adalah self cure. Bagi para penderita TBC mulailah menggunakan pola hidup sehat karna penyakit tidak dapat hidup dan berkembang di dalam tubuh yang sehat.

Dian Maya mengatakan...

terima kasih atas informasinya sangat berguna karena saya menderita penyakit ini. pengobatan baru berjalan 1 minggu.

Dion mengatakan...

Sangat menarik informasinya...
Saya ingin berbagi tentang TBC kelenjar, semoga bermanfaat.
Beberapa bulan yang lalu, dileher sebelah kanan saya muncul benjolan setelah sebelumnya tangan kanan saya terasa nyeri akibat main bulu tangkis, setelah nyeri tangan saya hilang, bejolannya masih tetap ada. Saya tidak tahu apakah ada hubungannya antara benjolan di leher kanan saya dengan rasa nyeri ditangan kanan itu.
Saya periksakan ke dokter, dianjurkan untuk dibedah, diambil sampel sedikit untuk lab, atau disedot pakai jarum suntik untuk diambil sampel cairannya. Saya pilih cara pengambilan sampel melalui sedotan jarum suntik di lab patologi anatomi (dikenal dengan uji FNAB). Hasil uji FNAB ini menyimpulkan bahwa tidak ditemukan sel-sel ganas, keterangannya adalah Lymphadenitis Chronis Caseosa. Dokter saya agak ragu dengan hasil ini, maka dokter meminta bag lab untuk memeriksa ulang/review sampel saya, kesimpulan hasil reviewnya hampir sama, hanya terdapat perbedaan menjadi Lymphadenitis Tuberculosa Caseosa, dan dokter menyimpulkan bahwa saya terkena TBC kelenjar. Mulai bulan april saya mengkonsumsi obat yang diberikan dokter, benjolannya tidak membesar, menurut perasaan saya semakin kecil. Tetapi ada benjolan lagi dibawah benjolan yang lama (entah kapan mulai muncul). Sampai saat ini (September) saya masih mengkonsumsi obat dari dokter dan terus kontrol ke dokter. Saya sangat berharap dapat sembuh dari penyakit TBC kelenjar ini. Secara fisik saya tidak merasakan sakit apa-apa, tidak ada keluhan lain dan tanda-tanda lainnya kecuali benjolan di leher kanan itu. Saya juga beraktivitas seperti biasanya seperti orang sehat yang lain.
Saya harap jika ada pembaca yang punya pengalaman dan informasi lain tentang penyakit ini dan solusi-solusinya, sudilah berbagi dengan kami.
Demikian pengalaman yang ingin saya bagikan. Terima kasih kepada mama Neisha pemilik blog ini.
Salam.

Hardi mengatakan...

salam untuk semua.. postnya sangat membantu....saya hanya mau berbagi kira2 bulan februari lalu saya merasakan ada benjolan di leher saya, awalnya saya pikir itu adalah karena posisi tidur yang tidak baik (seperti keseleo leher) jadi tidak saya perhatikan secara serius, ternyata lama2 makin membesar, lalu saya oleh seorang teman yang kebetulan dokter disuruh periksa lab melalui Patologi Anatomi (PA) dan juga foto thorax, dan hasilnya saya positif TBC kelenjar, tetapi paru saya tidak tertular, lalu saya diberi obat yang rutin sejak pertengahan februari, lalu sekitar 15 hari kemudian ternyata benjolan makin membesar, setelah saya periksa ternyata terjadi infeksi sekunder akibat dari kuman TBC sehingga saya harus menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan infeksi di leher saya untuk menghindari pecah dan keluar sendiri. saya sempat down tetapi karena saya ingin sembuh semuanya saya jalani, sampai saat ini leher saya masih belum pulih total pasca operasi dan therapi pengobatan TBC nya masih saya jalani dan tidak terasa sudah berjalan 1,5 bulan. kalo memang 6 bulan berarti saya masih sisa sekitar 4,5 bulan lagi. saat ini saya minum obat paten yang 1 butir sekali minum yg 3 x sehari, karena gak kuat untuk minum obat biasa yang sekali minum sebanyak 5 butir, memang agak mahal tapi sangat membantu kita untuk tetap patuh minum obat..mudah-mudahan berkat doa dan kedisiplinan utk therapi saya bisa sembuh, mohon doanya juga...terima kasih telah menyediakan tempat untuk berbagi, kalau ada perkembangan baru mohon dibagi lagi...thanks

clara ardilla catalia mengatakan...

saya ingin sharing mengenai penyakit ini. kebetulan saya sedang mengidap penyakit ini dan sedang hamil 3 bulan. ada benjolan agak besar di leher kanan saya, dan benjolan kecil2 di leher kiri. saya periksa ke dokter spesialis penyakit dalam dan sudah cek FNAB hasil nya positif terkena TB kelenjar tetapi tidak ganas.

dokter internist menjelaskan bahwa TB kelenjar bisa diobati layaknya pengobatan TBC lainnya. terapi obat selama 6 bulan. karena saya sedang hamil, terapi pengobatan itu ditunda sampai saya melahirkan. dokter menyarankan seperti itu karena TB kelenjar tidak akan berubah menjadi tumor dan tidak mempengaruhi janin. saya hanya cukup jaga kesehatan saja. banyak makan, banyak minum air putih, istirahat cukup. pada intinya TB kelenjar itu bukan harga mati dan dapat disembuhkan melalui terapi obat selama 6 bulan secara disiplin. InsyaAllah sembuh..