19 Juli 2008

Konsultasikan Dulu dengan Apoteker

*Sebelum Membeli dan Mengonsumsi Obat Bebas

KESEHATAN kerap dianggap sebagai harta yang tak ternilai harganya. Hal itu wajar mengingat saat orang sakit bukan hanya biaya pengobatan saja yang harus dikeluarkan. Tapi juga berdampak pada berkurangnya produktivitas seseorang.

Hanya saja, untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang paling bagus, biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, tak mengherankan bila orang kerap memilih membeli obat bebas yang dijual di toko obat ataupun apotek.

Terlebih, jika jenis penyakit yang diderita bisa dikategorikan sebagai penyakit ringan. Sebut saja, influenza, batuk, diare ringan, demam ringan, sakit kepala dan sebagainya. Karena tergolong ringan, penderita penyakit tersebut dengan mudah bisa mendapatkan obat bebas di pasaran.

Meski masuk kategori penyakit ringan, tapi bukan berarti seseorang bisa sembarangan dalam membeli obat bebas lho. Sebab, sebenarnya ada cukup banyak hal penting yang harus diperhatikan saat seseorang membeli obat bebas.

Apalagi, dalam jajaran obat bebas yang bisa dibeli tanpa resep dokter, ada jenis obat yang masuk kategori obat bebas terbatas. Yakni obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter tapi disertai peringatan-peringatan tertentu.

"Obat bebas terbagi dua jenis yakni obat bebas dan obat bebas terbatas. Jika kemasan diberi tanda lingkaran hitam dengan warna hijau di dalamnya artinya obat bebas. Dan obat bebas terbatas jika ditandai lingkaran hitam dengan warna biru di dalamnya,"ungkap Prima Yuhelvia Ssi, Apt, Apoteker RS Awal Bros Batam.

Meski masuk kategori obat bebas, tapi saat ingin mengonsumsi obat tersebut sebaiknya tetap dikonsultasikan dengan apoteker terkait khasiat dan aturan pakai obat.

Begitu juga dengan obat bebas terbatas. Mengingat ada peringatan-peringatan yang harus diperhatikan, saat membeli dan mengonsumsi obat jenis ini pastinya nggak bisa sembarangan.

Sebut saja adanya larangan bagi penderita penyakit tertentu seperti penderita ginjal, hipertensi, gangguan fungsi hati, wanita hamil dan menyusui dan sebagainya. Begitu juga dengan peringatan yang diberikan berupa kotak hitam layaknya peringatan obat keras dan sebagainya.

"Yang juga penting diperhatikan adalah membaca dan mempelajari label yang tertera dalam kemasan obat. Sebab, label tersebut akan memberikan banyak informasi tentang obat bersangkutan,"ungkap Prima.

Selain nama produk yang bersangkutan, label pada kemasan obat juga menerangkan bahan aktif apa yang digunakan, golongan obat misal obat batuk, antihistamin (anti alergi), antipiretik (penurun panas), antitusif (pereda batuk), dan sebagainya.

Ada juga keterangan indikasi obat, kontra indikasi, peringatan, efek samping, dan sebagainya. Informasi tersebut akan membantu penderita untuk memilih obat yang paling cocok dengan penyakit yang dideritanya. (*)



Jangan Sepelekan Aturan Pakai

BERBEDA dengan obat-obatan yang diberikan dokter yang disertai petunjuk pemakaian, saat mengonsumsi obat bebas atau obat bebas terbatas seseorang harus lebih teliti terkait aturan pakai.

Sebab, jika obat diminum kurang dari takaran, maka khasiat obat yang dibutuhkan tidak akan didapatkan. Sebaliknya, jika takaran melebihi dosis, bisa berakibat fatal yakni over dosis.

"Dalam mengonsumsi obat baik obat dengan resep dokter maupun obat bebas sebaiknya selalu memperhatikan takaran obat sesuai dosis dan ketentuan,"saran Prima Yuhelvia Ssi, Apt, Apoteker RS Awal Bros Batam.

Selama ini, tidak sedikit orang yang menganggap takaran sendok makan sama dengan sendok makan yang biasa digunakan di rumah. Padahal, sendok makan di sini adalah ukuran 15 mililiter atau setara dengan 3 kali sendok takar yang biasa disertakan dalam kemasan obat sirup.

"Jika dalam kemasan obat disertai sendok takar sebaiknya tidak mengganti sendok dengan sendok makan atau sendok teh di rumah. Sebab, dosis yang diberikan tak akan sama,"jelasnya.

Hal lain yang harus dihindari adalah, memberikan obat melebihi aturan dengan alasan ingin lekas sembuh. Tindakan tersebut bisa sangat membahayakan nyawa. Jika takaran yang ada belum memberikan efek kesembuhan, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter.

Selain itu, jangan juga mengabaikan aturan waktu minum. Apakah obat harus diminum sebelum makan, setelah makan atau bersama dengan makan. Begitu juga dengan berapa lama obat harus diminum, dan sebagainya. Aturan waktu minum itu tentu saja berkaitan dengan cara kerja obat dalam menyembuhkan penyakit. (*)



Pastikan Obat Belum Kadaluarsa

*Tips Aman Membeli Obat Bebas

MENGINGAT obat jenis bebas atau bebas terbatas banyak diperjual belikan di toko obat, apotek atau bahkan warung-warung, secara otomatis 'keamanan' obat ini harus benar-benar dipastikan sebelum dibeli.

Keamanan yang dimaksud adalah apakah obat-obatan tersebut masih layak konsumsi dan sesuai penyakit yang kita derita atau tidak. Itu artinya, Anda harus lebih selektif sebelum membeli obat bebas maupun obat bebas terbatas.

Sebagai panduan, berikut sejumlah tips yang bisa dijadikan panduan sebelum membeli obat bebas:

1. Pastikan kemasan atau segel masih terlihat baik, tidak rusak atau terbuka.

2. Pastikan juga apakah kemasan luar sama dengan kemasan di dalamnya

3. Perhatikan dan baca petunjuk yang tertera dalam kemasan. Pastikan obat sesuai dengan penyakit yang diderita.

4. Jangan membeli obat jika Anda tidak tahu cara menggunakannya

5. Perhatikan masa kadaluarsa (expired) obat yang akan dibeli. Jangan membeli obat yang sudah mendekati masa expired atau bahkan sudah expired dengan alasan lebih murah

6. Jika memiliki penyakit tertentu seperti gangguan fungsi hati, jantung, ginjal, hipertensi dan sebagainya, sebaiknya lebih selektif dalam memilih jenis obat bebas atau bebas terbatas. Karena bisa berdampak buruk terhadap penyakit tersebut.

7. Khusus wanita hamil, hati-hati dalam membeli obat. Sebab, ada obat-obatan tertentu yang bisa membahayakan janin dalam kandungan. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter saat sakit.

8. Jangan menyamakan penyakit antara satu orang dengan lainnya saat memilih obat. Misalnya anak sulung sembuh dari demam setelah meminum obat tertentu, akhirnya anak bungsu diberikan obat yang sama. Meski punya gejala sama, setiap orang tak bisa disamakan.

9. Jangan menggunakan obat yang sama untuk waktu yang berbeda atau lebih dari satu bulan (sirup) kecuali belum dibuka dan belum expired.

10. Jika memiliki alergi terhadap zat tertentu, sebaiknya lebih hati-hati dalam memilih obat.

11. Untuk menghindari obat palsu, sebaiknya membeli obat di toko obat resmi atau apotek. Sebab, kedua tempat ini biasanya mendapatkan pasokan obat dari agen resmi perusahaan farmasi. (*)



Jauhkan Dari Jangkauan Anak-Anak

SELAIN kehati-hatian dalam memilih obat yang paling tepat untuk dibeli, hal lain yang harus diperhatikan adalah masalah penyimpanan. Sebab, jika penyimpanan dilakukan secara sembarangan, bisa berdampak pada khasiat obat bersangkutan.

Lantas, apa sebenarnya hal penting yang harus diperhatikan terkait penyimpanan obat-obatan termasuk obat bebas dan bebas terbatas? Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Baca dengan teliti petunjuk penyimpanan yang tertera dalam kemasan obat. Apakah harus disimpan di tempat kering atau sebaliknya di dalam lemari es. Itu karena obat yang tak boleh masuk lemari es akan mengalami kristalisasi saat disimpan dalam lemari es. Sebaliknya, obat yang harusnya disimpan di lemari es tapi dibiarkan di luar, akan mengalami penguraian.

2. Jangan menyatukan obat menjadi satu plastik (pil atau kapsul) jika obat tak dikemas dalam kemasan khusus. Sebab, penyatuan dua obat berbeda secara langsung tanpa pelindung bisa memicu reaksi berbahaya.

3. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak. Sebab, rasa ingin tahu yang besar akan membuat anak ingin mencoba obat tersebut dan tidak menyadari bahaya yang mengancam.

4. Catat dan ingat-ingat tanggal kadaluarsa obat. Jika ragu akibat hilangnya catatan masa kadaluarsa jangan simpan obat dan sebaiknya membeli yang baru. (*)

1 komentar:

Nofa mengatakan...

Artikel sangat bermanfaat buat konsumen kesehatan.

Keep blogging & sharing..

Salam kenal,

Nofa
Blog walker